
Foto Koleksi : Elisabeth Ari Wijayanti, S.Pd.
SLEMAN – Sebuah inovasi pembelajaran berbasis film berhasil mencuri perhatian ratusan pendidik dalam ajang Temu Pendidik Nusantara (TPN) XIII Kabupaten Sleman yang diselenggarakan pada Minggu (19/7/2026) di SMP Negeri 1 Sleman. Dalam forum bergengsi yang mempertemukan para guru inspiratif dari berbagai daerah tersebut, Elisabet Arie Wijayanti, S.Pd., Guru Bahasa Indonesia SMP Negeri 3 Ngaglik, dipercaya menjadi salah satu narasumber untuk berbagi praktik baik melalui karya inovatif bertajuk “SINERGI” (Sinema Edukatif Remaja Berprestasi).
Mengusung semangat “Guru Belajar, Guru Berdampak”, TPN XIII menjadi ruang kolaborasi bagi para pendidik untuk saling berbagi pengalaman, strategi pembelajaran, dan inovasi yang telah memberikan dampak nyata bagi peserta didik.
Dalam sesi Kelas Pendidik 04, Elisabet memaparkan bagaimana sebuah ruang kelas dapat bertransformasi menjadi ruang produksi film yang mampu melahirkan pembelajaran bermakna. Melalui SINERGI, peserta didik tidak hanya mempelajari materi Bahasa Indonesia, tetapi juga mengalami proses belajar yang autentik melalui pembuatan film edukatif.
“Anak-anak tidak hanya belajar menulis cerita atau memahami teks. Mereka belajar bekerja sama, menyampaikan ide, memimpin tim, memecahkan masalah, dan menghasilkan karya yang membanggakan. Ketika mereka melihat film hasil karya sendiri diputar, rasa percaya diri mereka tumbuh dengan luar biasa,” ungkap Elisabet di hadapan peserta.
Program SINERGI mengajak peserta didik terlibat secara penuh dalam seluruh tahapan produksi film, mulai dari menemukan ide cerita, menyusun naskah, menentukan pemeran, melakukan proses pengambilan gambar, hingga mengedit video menjadi sebuah karya utuh. Proses tersebut menjadi pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus menantang karena setiap siswa memiliki peran sesuai potensi yang dimiliki.
Lebih dari sekadar proyek kreatif, SINERGI dirancang untuk menjawab tantangan pembelajaran abad ke-21. Melalui pendekatan berbasis proyek, siswa dilatih mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, kolaborasi, literasi digital, serta penguatan karakter yang selaras dengan Profil Pelajar Pancasila.
Paparan tersebut mendapat sambutan hangat dari para peserta. Banyak guru mengaku terinspirasi karena inovasi yang dibagikan tidak memerlukan fasilitas yang mewah, melainkan berangkat dari keberanian guru untuk mengubah cara belajar menjadi lebih bermakna.
Diskusi berlangsung interaktif. Berbagai pertanyaan muncul, mulai dari strategi mengelola proyek film di sekolah, teknik membangun kerja sama antarsiswa, hingga cara mengintegrasikan pembelajaran berbasis film dengan kurikulum. Antusiasme peserta menunjukkan besarnya minat terhadap inovasi pembelajaran yang mampu menghidupkan suasana kelas sekaligus meningkatkan kompetensi peserta didik.
Bagi Elisabet, kesempatan menjadi pembicara dalam forum nasional seperti TPN XIII bukan sekadar berbagi pengalaman, tetapi juga menjadi momentum untuk mengajak lebih banyak guru berani berinovasi.
“Guru tidak harus menunggu fasilitas yang sempurna untuk menciptakan pembelajaran yang berdampak. Yang paling penting adalah kemauan untuk terus belajar, mencoba hal baru, dan memberikan ruang bagi peserta didik agar berkembang melalui pengalaman nyata,” tuturnya.
Keikutsertaan guru SMP Negeri 3 Ngaglik sebagai pembicara dalam Temu Pendidik Nusantara XIII Kabupaten Sleman menjadi bukti bahwa inovasi yang lahir dari ruang kelas mampu memberikan inspirasi bagi dunia pendidikan yang lebih luas. Melalui SINERGI, pembelajaran tidak lagi berhenti pada penyampaian materi, tetapi berubah menjadi proses yang membangun karakter, menumbuhkan kreativitas, dan melahirkan karya yang membanggakan.
Ajang Temu Pendidik Nusantara XIII kembali menegaskan bahwa perubahan besar dalam pendidikan selalu berawal dari langkah kecil seorang guru di ruang kelas. Ketika praktik baik dibagikan, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh satu sekolah, tetapi dapat menginspirasi ribuan pendidik untuk terus menghadirkan pembelajaran yang bermakna bagi generasi masa depan. Penulis : Elisabeth Ari Wijayanti, S.Pd. Red. Heru Priyono, S.Pd.
